Yang Terbaik (untuk ayah)

Sekitar tiga tahun yang lalu, ketika saya telah ditasbihkan sebagai alumni SMA. Saatnya telah tiba meninggalkan ke-putih-abu-abu-an dari diri saya. Haeh..sedih rasanya melalui ini, karena saya harus berpisah dengan teman-teman yang bersama-sa.ma telah kami menjalani kehidupan di asrama sekolah selama 3 (tiga) tahun. Begitu banyak warna-warna yang terukir. Bahkan jika Allah mengizinkan saya melukisnya di alam, warna-warnanya pasti mengalahkan keindahan kombinasi warna pelangi. Semua orang akan melupakan pelangi dan akan menemukan gejala alam baru yang akan terus terkenang sepanjang masa, bukan begitu lucky seven?

Namun kesedihan tak saya alami terlalu lama karena selepas dari sekolah dan asrama tercinta, bersama teman-teman seangkatan saya harus memusatkan perhatian untuk persiapan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Maka tersebarlah kami di kota daeng, Makassar. Mencoba melanjutkan perjuangan membahagiakan orang tua dengan mengikuti berbagai bimbingan belajar yang ada di sana.

Waktu sibuk bergulir, kami pun hampir tiap hari mengikuti kegiatan bimbingan belajar yang diadakan beberapa lembaga bimbingan belajar. Hal ini kami lakukan kurang lebih 2 bulan. Sungguh waktu yang begitu sempit terkhusus bagi saya. Apalagi saya bukanlah orang sepintar teman-teman yang memang memiliki kemampuan mumpuni dalam hal bidang akademik. Jadi kini saya baru merasakan seolah sedang mempertaruhkan hidup dan ini merupakan kondisi pertama dimana saya mengalami kondisi yang genting. Kenapa saya mengatakan bertaruh? Karena saya harus mengkondisikan diri untuk serius melakukan persiapan dalam mengahadapi SPMB nanti. Jika tidak, apa kata orang kepada saya. Masak lulusan sekolah andalan tidak lulus masuk perguruan tinggi??? Sungguh berat bukan jika anda berada pada posisi saya? Setidaknya itulah yang selalu membayangi pikiran anda dan terus menerus sampai hari pengumuman hasil SPMB nantinya.

Di lain pihak saya harus tahu diri bahwa saya adalah harapan utama keluarga kecil saya, asa bagi kedua orang tua. Maklum, namanya juga anak pertama. Bisa diistilahkan “ujung tombak”. Kedua orang tua memiliki harapan yang besar kepada saya terutama ayah. Masih terngiang di benak saya ketika saya dan ayah sedang membersihkan kebun di tengah hari sewaktu di kampung. Ayah berpesan, “Belajarko baik-baik, nak! Jangan seperti bapakmu ini yang cuma kerja di kebun. Biar bapakmu saja yang kerja di sini. Jadi boleh saja kau malas-malasan ke kebun. Tapi janganko pernah malas belajar dan terus belajar. Kau harus tahu diri karena kita ini orang susah!!!”. Saya cuma bisa menggerutu tanpa memdengar dengan baik nasehat ayah saya tadi. Hah…betapa durhakanya saya. Dasar anak tak berbakti. Ketidakberbaktian saya pun ini dapat dilihat dari sikap saya ketika merasa begitu berat untuk disuruh ibu membawakan bekal makan siang untuk ayah sepulang sekolah. Sementara teman-teman bisa langsung pergi bermain sepulang sekolah saya malah harus ke kebun dan hal ini berlangsung dari mulai saya kelas 4 SD sampai saya tamat SMP.

Ayah dan ibu pernah bertengkar gara-gara karena saya terlambat membawakan makan siang ayah. Pada waktu itu kemalasan tinggi mendera saya, jadi ibu harus sampai melotot dan memukul saya dengan sapu ijuk agar saya mau membawakan bekal tersebut. Dan walhasil saya baru mau meaksanakan perintah itu sekitar jam 3 sore. Sudah jam makan siang bukan?
Sesampainya di kebun, kena semprotlah saya dari ayah. Sampai-sampai dia berkomentar bahwa ibu tidak pernah mau mengerti betapa capeknya ayah. Masak beliau harus menunggu sampai kelaparan untuk makan siang? Saya ingin langsung mengatakan kepada ayah bahwa itu bukan salah ibu, namun melihat ayah yang terus menggerutu dengan wajahnya yang garang, bibir ini seakan memang terjahit tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ternyata begitu menakutkannya ketika orang tua kita lagi marah atau berang, serasa bagaikan dikutuk.

Tidakkah kejadian ini menunjukkan bahwa begitu durhakanya saya kepada kedua orang tua??

Nah, waktu berjalan dan masa SPMB pun tiba. Sempat saya bingung akan jurusan apa yang akan dipilih. Kalau mau mengikuti seperti teman yang menembak jurusan-jurusan di universitas terkenal seperti ITB, ITS, dan UI begitu juga Kedokteran Unhas, dari dalam hati ini langsung ada yang menegur,”Wah, kelas kamu bukan disitu!!” Ya memang seperti yang diungkapkan di atas tadi bahwa saya bukanlah orang yang sehebat teman-teman.

Jadilah saya memutuskan untuk menembak jurusan Farmasi Unhas pada pilihan pertama dan IPB pada pilihan kedua. Perlu dijelaskan bahwa pada saat itu IPB hanya memiliki satu kode untuk semua jurusannya. Katanya nanti setelah 1 tahun bersama baru ada penjurusan. Sebuah pilihan yang aneh bukan? Tapi saya mengurutkan pilihan saya tersebut berdasarkan passing grade saat itu.

Ujian SPMB pun berlangsung. Saya menjawab apa yang bisa saya jawab dan tak berani asal menembak jawaban. Keresahan kemudian menghantui setelah ujian selesai. Berbagai pertanyaan muncul di kepala. Bagaimana kalau jawaban saya sedikit yang benar? Kalau pun benar, apakah mampu memenuhi passing grade? Atau tidak salahkah saya menghitamkan isian jawaban? Mantapkah doa saya sebelum ujian tadi? Dan beraneka pertanyaan lainnya yang selalu menghantui pikiran sampai akhirnya tiba masa pengumuman.

Kurang lebih jalan satu bulan akhirnya pengumuman SPMB juga. Perasaan waktu itu tak menentu, panas dingin mungkin. Dan ternyata, tanpa dinyana dan tanpa diduga akhirnya saya lulus apada tembakan kedua, IPB. Wah, suatu berita yang menggembirakan bagi saya. Namun saya yang dasar tak tahu cara berekspresi seharusnya hanya bisa tersenyum dan tak lupa mengucap rasa syukur kepada Allah. Ekspresi ibu malah lain. Ketika beliau melihat pengumuman dan mendapati nama saya, beliau langsung teriak kegirangan. Hah…entah bagaimana dengan ayah mudah-mudahan iya bahagia dan bangga akan kelulusan ini.

Waktu pendaftaran ulang untuk mahasiswa baru masih cukup lama, maka saya pulang kampung terlebih dahulu. Di perjalanan pulang perasaan saya cukup senang karena pulang dengan kondisi telah lulus. Tapi keadaan berubah begitu saya sampai di rumah tercinta. Ayah tiba-tiba memeluk sambil menangis dan berkata,”Maafkan bapakmu ini, nak. Kayaknya bapakmu ini tidak bisa kasi sekolahko di sana (IPB). Darimana kodong bapakmu ini ambil uang?” Dan tersedunya tetap berlanjut walaupun telah melepaskan pelukannya dariku. Saya hanya bisa duduk terdiam ketika ini terjadi. Tak tahu harus berkata apa. Hanya bisa berpikir bahwa begitu berat beban yang harus dipikul oleh seorang ayah. Tanggung jawab yang harus ia emban begitu besar. Apalagi menyangkut pendidikan anak-anak yang akan jadi penerusnya. Mungkin tangisan tadi adalah puncak dari ketidakmampuan lagi dari ayah untuk menanggung beban dan tanggung jawabnya tersebut.

Saat itu kelihatan betul ayahku begitu rapuh. Betapa ia menangis tersedu seperti anak kecil. Duduk terisak sambil memeluk kedua kakinya yang ia lipat rapat ke dadanya. Tak pernah aku melihat ayah bersedih selarut ini. Tak juga ketika kakekku meninggal. Waktu ia hanya mengucap “Innalillahi wa Innalillahi Rojiun” dengan mata yang berkaca-kaca namun tak mengeluarkan air mata. Tapi sekarang, ketika ia merasa tak mampu memenuhi kewajibannya sebagai orang tua untuk membiayai pendidikan anaknya, ia begitu kelihatan terpukul. Pernahkah teman-teman pembaca mengalami hal yang sama??

Hah..dasar saya anak tak tahu diri!! Tak tahu kondisi ekonomi keluarga. Seenaknya saja memilih perguruan tinggi yang tentunya kalau lulus di situ perlu biaya yang cukup tinggi untuk ukuran keluarga kami. Mana lagi tempatnya cukup jauh di luar pulau. Sempat juga keesokan harinya, saya ditemani paman mengahadap ke pak bupati untuk permohonan beasiswa namun hasilnya nihil.

Hancur sudah perasaan saya waktu itu. Serasa terpuruk. Untuk alternatif sementara saya mencoba mengikuti tes di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) yang berlokasi di Makassar. Dan begitu lulus ekspresi saya malah biasa-biasa saja. Maklum karena bukan ini yang saya inginkan. Tapi apa dikata, pasrah sajalah. Lagi pula biaya kuliah di sini juga lumayan murah dan tentunya tidak begitu memberatkan orang tua.

Pada waktu mendekati akhir semester II di PNUP tiba-tiba ayah menelpon dari kampung mengatakan bahwa ada pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Badan Pusat Statistik (BPS) dalam waktu dekat yang akan diadakan di Makassar. Tiba masanya tes, saya ikut tes. Pada waktu tes saya begitu santai mengikuti. Saya menjawab soal yang bisa dijawab. Seakan tak ada beban karena pikir saya kala itu ini mungkin hanya mencoba peruntungan saja. Tapi jauh di kampung sana orang tua punya harapan besar kepada saya kali ini. Hah…lagi-lagi, dasar anak tak tahu diuntung.

Dan takdir pun berbicara. Lulus. Ekspresi saya malah cenderung berlawanan dengan kelulusan saya. Begitu melihat nama di lembar pengumuman, saya malahmenpuk jidat saya lalu berkata dalam hati, “Kenapa malah lulus?” Saya belum begitu mengerti dengan dunia kerja. Belum siap untuk masuk ke dalamnya.

Sepulang melihat pengumuman, langsung saja saya menelpon ke kampung untuk mengabari orang tua. Bukan main gembiranya mereka. Terutama ayah. Mungkin saat itu senyum begitu lebar. Tak sempat saya melihat. Doa dan harapannya telah terkabul. Beban dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga mulai berkurang. Sempat saya berujar kepada ayah bahwa saya belum siap untuk memulai hal yang baru ini. Tapi mendengar itu ayah langsung mencak-mencak dan bertanya kenapa belum siap. “Masalah kuliah nanti soal gampang, nak!! Kerjami dulu!!”, ujar ayah. Yah..sebagai anak yang tak mau mengecewakan beliau harus saya terima apa keinginan beliau. Tak mau lagi saya menambah beban beliau. Cukup sudah rasanya saya menambah berat beban pikirannya. Lagi pula masih ada adik-adik saya yang harus sekolah dan masih panjang perjalanan mereka.

“Mengalahlah wahai anak sulung!!!”, kata hatiku. Mengalah untuk keluarga. Mengalah demi senyum kedua orang tua, apalagi ayah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar dan mengalah. Dan memang itu terbukti. Sekarang saya bisa memiliki gitar (yang begitu lama saya inginkan) dari uang saya sendiri, sudah bisa mengirim uang ke kampung buat membantu orang tua, sudah bisa punya motor sendiri dan berbagai rezeki dari Allah SWT. Alhmadulillah. Semua ini karena Ayah. Thank’s Dad!!. I’ll love you forever!!!

………..

I’m falling into memories of you, and things we used to do
Follow me there,
A beautiful somewhere,
A place that I can share with You

………..


(One Year, Six Month; by Yellowcard @ Album Ocean Avenue)

Advertisements

5 thoughts on “Yang Terbaik (untuk ayah)

  1. Subhanallah, Allah sudah menggariskan sesuatu untuk kebaikanmu.. Terus berjuang kawan, sa bangga punya sahabat kayak kau.. Jadi pengen nangis baca postinganmu.. Saaaaaallluuuuuutttttttt…….

    Like

  2. good work, fajrin. terkadang saya juga bertanya : untuk apa saya sekolah tinggi2? prestisekah? dan ibuku cuma menjawab : "tidak ada yg bisa diwariskan ko, kecuali sekolah".

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s