#perindu [edisi kedua]

Sekedar dokumentasi saja postingan ini. Bahasa lainnya adalah pengarsipan dari tweets sajak saya, lebih tepat mungkin. 🙂

Berikut tweet-tweet sajak saya tersebut dengan hastag #perindu sejak 4 Agustus 2010:

adakah televisi menurut padaku?|menayangkan bayang wajahmu|hanya untuk pengobat rindu|hingga mati benar kenangan ttgmu @puisikita #perindu 

  

Menari aku dalam televisi|sambil dendangkan nyanyian rindu|sudikah engkau jadi penonton setianya, kasih? @puisikita #perindu 

  

desah rindu menderu bak serbuan peluru|menembus ruang-ruang kosong hatiku|hingga semakin jelas imaji akan wajahmu @puisikita #perindu

      

Jangan dulu kau tembak aku|ganti isi peluru itu|dengan butiran kasih rindu @puisikita #perindu 

  

kubiarkan angin membawa diri|pada sarang peluru rindu|hingga sepuasnya kutembakkan padamu @puisikita #perindu 

  

dlm linangan air mata kau ttp memelukku|tak peduli juga remuk tubuh|tapi,akan terus kutatapkan langit untukmu, BUNDA @puisikita #perindu 

kemarin adik merengek padaku, ma. Minta ia disuapi. Kuingat lagi ketika kecil dan hanya aku sendiri yg puas disuapi olehmu #perindu 

  

mama, adakah hujan jg dsana? Di kampung tempatku disuapi olehmu? #perindu 

  

mama, hujan di luar sana… mengingatmu dengan dingin yang tercipta betapa pas rasanya, jadi kurinda pada hangat pelukmu #perindu 

Kritikan? Sangat saya butuhkan. Bahkan mungkin yang berbau celaan, tolong jangan simpan di hati. Tuliskan dengan mengomentari postingan ini. Mariki' di'!! 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s