Al-Qur’an dan Majas

Jaman SMA dulu (smudama tercinta tentunya), pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, dipelajari tentang MAJAS. Majas atau Gaya Bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu (id.wikipedia). Dituliskan pula bahwa Majas berarti keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan baik secara lisan maupun tulisan. Majas terdapat dalam berbagai jenis, antara lain dalam bentuk perbandingan, sindiran, penegasan, dan pertentangan.
Nah, jauh sebelum ditemukannya kata majas itu sendiri, rupa-rupanya Allah telah memperlihatkan ke-maha-annya dalam gaya berbahasa, termasuk dalam hal ini adalah majas. Bukti nyatanya adalah dapat kita lihat pada beberapa firmanNya dalam Al-Qur'an. Salah satu bentuk majas yang digunakanNya dalam Al-Quran adalah Majas Ironi (termasuk dalam jenis Majas Sindiran). Majas Ironi sendiri berarti sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Contoh ayat yang menggunakan majas ini adalah 
-. Ayat 30 Surah Ibrahim; yang artinya:
"Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka." 
Jadi pada bagian akhir ayat ini disinggunglah bagaimana orang-orang kafir itu disuruh bersenang-senang hanya karena tempat kembalinya menuju neraka. Betul-betul menyindirkan? Mana ada yang mau bersenang-senang hanya untuk menuju siksaan? Subhanallah!! 🙂
-. Ayat 34 Surah At Taubah; yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih"
Sama seperti ayat sebelumnya di atas, terdapat maksud dari Allah untuk menyindir bagi orang-orang yang kikir (menyimpan harta dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah), untuk disampaikan kepada mereka sebuah kabar gembira yaitu bahwa mereka akan diberi siksa yang pedih atas tindakannya tersebut. Ironis!! Ketika kabar gembira yang kita dapatkan adalah sesungguhnya siksaan pedih. Naudzubillah!!
Masih banyak lagi (mungkin) ayat-ayat lain yang memuat bentuk majas didalamnya, baik itu majas ironi bahkan tidak memungkinkan bentuk majas lainnya. Ini hal yang cukup menarik sebenarnya untuk dikaji lebih lanjut, setidaknya itu menurut saya pribadi. Bahwa penelitian lebih lanjut tentang kekayaan gaya bahasa atau sastra oleh Allah dalam Al-Quran, perlu untuk dilakukan. Perlu waktu yang lebih banyak kiranya untuk hal ini. Teman-teman pembaca ada yang tertarik? 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s