Keikhlasan

Beberapa waktu yang lalu, sepulang dari Makassar untuk menemani indo’, saya mengalami pengalaman menarik. Keesokan paginya tiba-tiba ada panggilan dari nomor baru di ponsel, menanyakan nama dan alamat saya. Kemudian memberitahukan bahwa kartu-kartu saya (ATM, KTP, Askes, SIM dan NPWP) tertinggal di mobil. Langsung saja saya periksa dompet dan memang betul kalau kartu-kartu tersebut tak ada. Kayaknya terjatuh ketika semalam saya membuka dompet untuk membayar ongkos angkutan. Pantasan saja, sempat berasa itu dompet tipis. Pikir saya, mungkin karena isinya (uang) ya memang cuma beberapa lembar.
Kembali ke si penelepon/ penemu tadi, ia mengaku mendapatkan kartu-kartu saya itu semalam ketika turun dari mobil. Belakangan si penemu ini (seorang wanita) saya ketahui adalah keluarga (dan ternyata juga serumah) dari si sopir mobil yang ikut menumpang di mobil dan ia baru naik pas di daerah Barru. Ia lalu menanyakan apakah mau diantarkan saja kartu-kartu tersebut ke Parepare esok hari atau mengambil sendiri di rumahnya yang beralamat di daerah Batu Pute, Barru. Terngiang, apa benar ini orang yang benar-benar menemukan kartu saya. Bukan malah ingin mengerjai? Tertanya pula dalam pikir kemudian, kenapa malah securiga ini ya? Darimana coba dia tahu nomor ponsel saya dan mengaku menemukan. Si penemu kemudian mengatakan kalau nomor ponsel saya didapatinya dari Kartu NPWP saya (Special Thanks buat kak Zulfikar Azhar, A.Md yang mencetakkan kartu NPWP itu dan sebelumnya dituliskannya nomor ponsel, alamat email, serta alamat blog saya di kartu tersebut). 
Keputusan terambil, dan saya memilih untuk mengambil sendiri. Sempat bingung juga sih, Batu Pute di daerah Barru itu di sebelah mana ya? Si penemu hanya menjelaskan, sesudah daerah Palanro dan tak jauh dari jembatan dan di depan seberang jalan rumahnya ada mesjid. Artinya belum sampai Kota Barru. Hep, dengan mengajak si Ryan, salah seorang anak dari Ibu Kost, langsung tancap gas ke sana. Untung saja, karena pada saat itu sudah menjelang tengah hari, matahari tidaklah terlalu terik. 
Ternyata tak terlalu susah mendapati rumah si penemu. Terparkir di bagasi rumah, mobil kijang yang saya tumpangi semalam dan masih saya kenali mobil tersebut. Di depan rumah, yang ditemui adalah si sopir (tak tampak si wanita yang menelepon tadi) dan langsung saja saya tanyakan perihal kedatangan. Kemudian ia masuk rumah sebentar dan keluar membawa kartu-kartu saya tersebut. Begitu saya mengulurkan ‘uang rokok’ sebagai balas jasa untuknya, namun ditolaknya dengan tegas. Hmmm.. *ggk. Saya jadi salah tingkah dan hanya terucap banyak-banyak terima kasih kepadanya. Sungguh mulia perangai orang ini. Ditemukannya barang saya yang hilang, yang notabene sangatlah penting, namun tak mau juga ia menerima balas jasa. Satu pelajaran terpetik: Ikhlas dan jujur!!! 
Perjalanan pulang, saya dan Ryan, berulang-ulang berkata, “Baeknya itu orang di’!”. Tak menyangka saja seorang sopir angkutan antar kota sebaik itu kepada saya yang tak dikenalnya sama sekali. Yak, sebuah doa buat si sopir dan penemu semoga Allah memberikan balasan yang setimpal dan kemurahan rezeki bagi mereka. Amin.
Advertisements

3 thoughts on “Keikhlasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s