Penghargaan untuk Tukang Ojek

Parepare kekinian, tukang ojek banyak dijumpai di hampir semua jalan-jalannya. Terutama lagi di jalur-jalur yang cukup ramai seperti sepanjang Jalan Bau Massepe, Jenderal Soedirman, dan Jenderal Ahmad Yani. Jadi sudah menjadi hal yang biasa ketika kita berada di pinggir jalan kemudian teriakan “ojek!!” sering terdengar dari para tukang ojek yang masih mengendarai motornya. Tidak seperti di kebanyakan daerah lain, dimana kita sendiri yang harus mencari pangkalannya ketika mau ngojek. 

sumber gambar:  http://pendek.in/04ck6


Tukang ojek di Parepare (bisa dikatakan) menjamur karena profesi ini merupakan salah satu pilihan yang gampang untuk dijadikan sumber pendapatan. Kenapa? Di jaman sekarang kan cukup dengan uang Rp. 500.000 maka motor (umumnya jenis bebek) sudah bisa dimiliki dan memang umumnya jenis motor yang digunakan tukang ojek adalah motor jenis bebek.  Murah ya? Hal ini dimungkinkan karena adanya jasa pembiayaan pembelian motor baru oleh berbagai perusahaan pembiayaan, dimana dalam jasa tersebut uang Rp. 500.000 sudah bisa dijadikan uang muka cicilan motor.
Bisa dikatakan jarang saya menggunakan jasa tukang ojek. Tapi terpikir bahwa pekerjaan ini sungguh berat untuk menjalaninya. Bayangkan harus keluar rumah pagi-pagi untuk cari penumpang sampai malam hari. Belum lagi bagi yang tidak punya pangkalan, bisa jadi tempat istrahatnya kalau bukan pulang ke rumah maka di sembarang pinggir jalan.
 sumber gambar: http://pendek.in/04ck4
Terkadang muncul rasa iba atau kasihan ketika mengamati mereka. Ketika menggunakan jasa ojek, saya tidak akan menawar lama-lama untuk tarif/ biayanya. Tidak tega rasanya untuk melakukan itu dengan wajah mereka yang menunjukkan keletihan, belum lagi kalau tukang ojeknya sudah agak berumur. Pun ketika bayarnya baru ketika sampai di tujuan, serasa ada yang mengganjal di hati ketika ingin berlama-lama lagi untuk menawar-nawar tarifnya. Merelakan selebihnya uang yang diberi (sekitar Rp. 1.000-3.000) dari tarif tak salah rasanya. Sekalian sedekah juga kan?

sumber gambar: http://pendek.in/04ck2 
Lantas bagaimana dengan tukang ojek yang jahil? Atau bagi yang perempuan pernah digodain tukang ojeknya? Atau beda lagi kondisinya di daerah lain? Saya tentunya tak bisa menjawab. Apa yang tertulis di atas berdasarkan apa yang menjadi pengalaman saya. Begitupun dengan sebentuk “penghargaan” yang seperti telah tertulis, menurut saya sudah sepantasnya. Karena mereka lakukan itu untuk hidup dan cinta pada keluarga.
sumber gambar: http://pendek.in/04ck0
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s