Potret Lain Pelabuhan Siwa – Sebuah Keluhan

Hari Ahad kemarin, untuk kesekian kalinya saya mengantar istri ke pelabuhan di Siwa, Kabupaten Wajo untuk menyeberang ke Kolaka Utara tempat dia bertugas. Sebagai informasi sedikit, bahwa di pelabuhan ini terdapat dua jenis kapal yang berlabuh setiap harinya yaitu, kapal feri dan kapal fiber. Di sini, kapal feri (1 unit) hanya melayani jalur Pelabuhan Siwa – Pelabuhan Tobako, Katoi, Kolaka Utara, Sultra. Dengan kapal feri waktu yang di tempuh untuk sampai di seberang sekitar 3 jam. Berangkat dari Pelabuhan Tobako jam 09.00 WITA dan tiba pukul 12.00 WITA di Pelabuhan Siwa. Kemudian akan berangkat ke Tobaku lagi pukul 14.00 WITA dan tiba sekitar pukul 17.30-18.00 WITA (tergantung ombak mungkin :p)
sumber gambar: di sini
Sedangkan untuk angkutan jenis kapal fiber terdapat dua unit. Satunya memiliki tujuan/ jalur yang sama dengan kapal feri tadi, dan yang satunya lagi menuju ke Pelabuhan Kolaka. Dengan kapal fiber waktu tempuh perjalanan menuju ke Pelabuhan Tobaku lebih singkat, sekitar 1,5 jam. Namun anda harus menanggung resiko guncangan ombak yang lebih terasa ketimbang naik feri dan syukur kalau ombaknya tidak kencang. :p
Oke, itu tadi tentang angkutan kapalnya. Selanjutnya saya ingin berbagi kesan tentang fasilitas-fasilitas umum di Pelabuhan Kelas III ini. Adalah kekecewaan yang terjadi ketika mendapati bahwa WC/ kamar kecilnya tidak terawat dengan baik. Berikut di bawah ini beberapa gambar kondisi wc yang sempat saya ambil:
Bak air yang terlihat jarang dibersihkan.

Jejaring laba-laba yang tumbuh subur!

Lantai yang kotooooor!
Akan menimbulkan kesan yang negatif kan? Bahkan mungkin menjijikkan! Padahal untuk setiap orang yang memakai wc ini dikenakan biaya Rp. 1.000. Dikali jumlah berapa orang penggunanya. Tentu bukan jumlah hal yang sedikit yang bisa didapatkan pihak pelabuhan tiap harinya. Dengan kondisi seperti yang nampak gambar di atas, wajar jika kita meragukan manajemen pelabuhan Siwa ini. Kemana “larinya” biaya yang dikenakan tadi? Apa yang dilakukan pengelola pelabuhan? Sebegitu malasnyakah? Saya yakin tidak sedikit orang, yang telah datang di pelabuhan ini dan menggunakan fasilitas ini, akan mengeluhkan hal yang sama.
Kondisi tak terawat juga ditemui pada mushallah yang disediakan. Jika diperhatikan sebenarnya bukan mushallah, tapi sebuah ruangan yang dialihfungsikan. Nampak lantainya yang dipenuhi debu dan kotoran tanah. Bahkan sajadah yang disediakan hanya satu lembar, itu pun dipenuhi bulu kucing. Tak ada mukena yang disediakan. Di samping itu kursi yang terdapat di ruang tunggu sangat terbatas. Beberapa penumpang malah memilih menunggu dengan melantai di teras kantor pelabuhan.
Sudah sewajarnya jika kantor dan fasilitasnya direhabilitasi. Tak lupa perbaikan manajemen pelabuhan disegerakan. Setelah googling saya menemukan pengumuman tentang pemenang tender pembangunan fasilitas pelabuhan ini yang akan dilaksanakan tahun ini. Entah pembangunan fasilitas ini mencakup juga fasilitas kantornya karena di pengumuman tersebut tidak disebutkan. Semoga dengan nilai pekerjaan sebesar dua puluh milyar lebih, seluruh fasilitas dapat diperbaiki/ ditingkatkan kualitasnya lagi. Amin.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s