Bukannya Pelit, tapi…

Akhir pekan lalu, mungkin saja menjadi awal saat bahagia saya untuk bulan ini. Untuk kesekian kalinya saya menjemput istri pulang. Beberapa pekan terpisah, dikarenakan pekerjaan, untuk ukuran kami yang belum setahun menikah adalah waktu yang sangat berharga. Namun ada kejadian yang bisa dibilang cukup mengusik ketika kami akan berangkat pulang menaiki angkutan umum roda 4 di Pelabuhan Siwa menuju Parepare.

Sebelumnya saya jelaskan bahwa Istri mengabdikan diri (semoga cepat pindah) mengajar di salah satu SMA di daerah Kolaka Utara, tepatnya Desa Kosali, Kecamatan Pakue dan untuk pulang atau menuju tempatnya mengajar berikut jalur yang mesti kita lewati: Parepare – Siwa (Pelabuhan)- Tobaku, Kolaka Utara (Pelabuhan) – Pakue/ Kosali, dan waktu yang ditempuh sekitar 7,5 jam. Cukup melelahkan bukan? :p


Kembali lagi soal kejadian yang saya maksud tadi. Setelah kapal fery merapat ke pelabuhan Siwa, kami berdua pun turun menuju terminal angkutan umum di pelabuhan. Sementara saya mengambil bawaan dari mobil pengangkut barang, istri saya mencari angkutan umum yang akan kami naiki menuju Parepare nantinya. 
Dapat mobilnya, barang bawaan dinaikkan dan kami berdua pun sudah berada di bangku penumpang.  Tapi alangkah kagetnya ketika sopir menagih ongkos sebesar Rp. 50.000 per orang untuk kami berdua menuju di Parepare. Sepengetahuan kami ongkos Siwa – Parepare sebesar Rp. 40.000 per orang. Itu pun jika berangkat dari Pelabuhan Siwa, tapi jika naik mobilnya di luar pelabuhan hanya sebesar Rp. 30.000. Saya tak tahu menahu tentang peraturan yang mengatur tarif AKDP di Sulawesi Selatan, tapi biasanya Sopir angkutan umum tak pernah komplain ketika saya membayar hanya sebesar Rp. 40.000 jika berangkat dalam pelabuhan dan Rp. 30.000 jika dari luar pelabuhan.
Adalah peran aheng (sebutan untuk seseorang yang biasanya mencarikan penumpang untuk para sopir angkutan umum, di wilayah Sulawesi Selatan) di pelabuhan yang membuat ongkos angkutan lebih besar dari harga sebenarnya dengan alasan kelebihan harga tersebut sebagai balas jasa kepada mereka. Itu kami berdua sadari ketika tadinya sang sopir menagih ongkosnya dan kami menolak kemudia giliran seseorang, yang dengan mudah kita tebak itu aheng, yang menagih dengan besaran yang sama tapi tetap kami bersikeras menolak membayar. 
Sebenarnya sempat si aheng menurunkan Rp. 90.000 untuk kami berdua lagi tapi godaan itu tidak menggoyahkan pendirian kami. Ia kemudian berujar, “Turunmeq pale! Carimeq mobil lain!”. Oke, turunmeq pale!“, kompak saya dan istri saling mengajak! Bukannya pelit, tapi kami tidak mau dibodoh-bodohi begitu saja! Kami berdua lulus S1, bukan anak TK yang dengan mudah ditipu. 
Dan, Tuhan masih berpihak kepada kami. Setelah kami keluar dari pelabuhan menggunakan jasa Becak-Motor dengan ongkos sebesar Rp. 20.000 sampai di depan Pasar Siwa yang terletak tak jauh dari jalan masuk menuju pelabuhan, tak butuh waktu yang lama untuk mendapatkan mobil angkutan umum yang hanya mengenakan biaya Rp. 30.000 per orang sampai di Parepare. Lebih murah kan? Tidak seberapa memang besaran selisihnya tapi tetap saja kami tidak berhasil dibodoh-bodohi. 🙂
***
Fenomena keberadaan aheng sebenarnya bukanlah hal baru bagi saya dan mungkin teman pembaca yang biasa menggunakan jasa AKDP rute Makassar menuju daerah kabupaten/ kota lainnya di Sulawesi Selatan. Mereka dengan mudah meminta balas jasa dari sopir angkutan yang singgah mengambil penumpang di pinggir jalan. Dasar balas jasa menurut mereka, ya seperti yang saya tuliskan di atas bahwa merekalah yang mencarikan angkutan umum untuk calon penumpang. Padahal tanpa mereka pun sebenarnya para calon penumpang bisa saja dengan mudah mendapatkan mobil angkutan umum. Sebaliknya pun sopir juga bisa dengan mudah mendapatkan calon penumpang tanpa adanya aheng. Saya berani bertaruh bahwa tak ada satupun peraturan yang mengatur tentang keberadaan aheng ini. Semoga saya salah! Karena sebenarnya bagi saya apalagi para sopir, keberadaan mereka meresahkan. 
Faktor tidak optimalnya penggunaan terminal angkutan umum pada kebanyakan daerah di Sulawesi Selatan bisa jadi salah satu penyebab tidak langsung bebasnya aheng beraksi. Di samping itu calon penumpang lebih memilih menunggu angkutan umum di pinggir jalan ketimbang masuk ke terminal dulu. Di terminal biasanya penumpang menunggu dalam waktu yang lama agar mobil angkutan umum berangkat. Beda halnya dengan menunggu di pinggir jalan yang seketika itu juga mobil berangkat setelah calon penumpang masuk ke mobil angkutan umum.
Serba salah kan? 🙂
Advertisements

2 thoughts on “Bukannya Pelit, tapi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s