Kemandirian Pangan dan Fenomena Konversi Lahan Pertanian

sumber gambar di sini
Kemarin, Selasa, 16 Oktober 2012, kembali kita memperingati Hari Pangan Sedunia dan kali ini sudah yang ke-32 kalinya. Hari Pangan Sedunia di Indonesia sendiri akan dilakukan perhelatan/ peringatannya mulai besok tanggal 18 s.d 22 Oktober 2012 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tema yang diangkat adalah “Agroindustri Berbasis Kemitraan Petani menuju Kemandirian Pangan“. 
Bagus ya kalimat temanya? Tapi apa mudah mewujudkannya? Terutama untuk frasa Kemandirian Pangan
Menyebut frasa tersebut maka terlintas di benak saya beberapa hal. Produksi pangan yang melimpah, tidak ada lagi impor beras, masyarakat kita sejahtera, dan tentunya harga beras murah. Oke, mungkin harga beras sudah terjangkau adanya untuk sebagian besar masyarakat Indonesia tapi bagaimana dengan kenyataan angka impor beras yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Di bawah ini adalah tabel yang menyajikan Impor Barang Modal dan Beberapa Komoditi tahun 2008 – 2011:
Coba lihat angka impor komoditi beras, yang meski pada tahun 2009 (250,5 ribu ton) mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2008 (289,7 ribu ton) tapi mengalami peningkatan angka yang bisa dibilang fantastis di tahun 2011 yaitu 2,750 juta ton. Mencengangkan bukan? Angka gila ini tentunya menjadi PR besar bagi pemerintah kita. Penyelesaiannya pun terhalang oleh berbagai masalah. Salah satu masalah penting diantaranya adalah lahan pertanian yang makin terbatas.
Konversi Lahan Pertanian
Secara sederhana kita bisa merumuskan bahwa pertambahan jumlah penduduk searah dengan peningkatan jumlah konsumsi penduduk itu sendiri. Lantas bagaimana jika pada lahan pertanian dengan luasan yang tetap, terjadi seperti hal tadi? Tentunya membuat kita berpikir keras untuk pemenuhan kebutuhan pangan, apalagi jika lahan pertanian malah justru berkurang. 
Salah satu penyebab utama berkurangnya lahan pertanian adalah konversi lahan pertanian menjadi non pertanian. Zaman kuliah dulu salah satu senior mengangkat tema konversi lahan pertanian di skripsinya. Saya tidak sempat mendalami tapi bisa mengambil beberapa poin penting dari skripsi tersebut. Bahwa banyak alasan yang memaksa petani untuk mengkonversi lahan pertaniannya. Contohnya: pertambahan jumlah anggota keluarga sehingga mereka harus merelakan sebagian lahan pertaniannya diberikan kepada sang anak untuk dibangun rumah. 
Faktor biaya pendidikan anak yang makin hari biayanya makin bertambah memaksa sang kepala keluarga juga menjual tanah sawahnya untuk kepentingan tersebut. Bahkan ada kasus mereka menjual lahannya hanya untuk ‘pelicin’ agar anaknya diterima di suatu lembaga pendidikan atau menjadi abdi negara. Ada juga petani yang telah kehilangan passion bertani dan memilih untuk berusaha di bidang lain sehingga lebih baik menjual lahan pertaniannya daripada nganggur. Dan dengan itu uang hasil penjualannya dipakai untuk modal usaha. 
Sebenarnya ada beberapa faktor-faktor lainnya tapi melihat alasan-alasan tadi bisa dikatakan bahwa konversi lahan pertanian menjadi fenomena yang mutlak terjadi atau tidak dapat dihindarkan lagi. Apalagi jika melihat secara mikro pada rumah tangga tani yang keadaan ekonominya belum stabil.
***
Apapun yang menjadi tema Hari Pangan Sedunia kali ini harusnya tak membuat pemerintah menganggap enteng fenomena berkurangnya lahan pertanian. Pengendalian konversi lahan pertanian harus mendapat perhatian khusus agar kelak di masa depan kemandirian pangan bisa tercapai. Kalau tidak salah 2014 ya rencananya mau Swasembada Beras? Semoga tercapai, amin!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s