Idealnya Punya Anak Berapa?

sumber gambar di sini
Anak merupakan titipan Allah dan memilikinya adalah karunia yang tak terkira.  Semacam nilai tambah yang didapatkan dari sebuah pernikahan . Kenyataannya ada paham yang beredar di masyarakat kita bahwa pasangan menikah sewajarnya menghasilkan keturunan, jika tidak pasti ada yang salah dengan pasangan tersebut.
Beberapa malam yang lalu, di grup whatsapp teman seangkatan SMA, terjadi diskusi kecil. Seorang teman memulai dengan pertanyaan, idealnya punya anak berapa? Saya memberi jawaban spontan, berapapun tergantung rencana hidup tiap pasangan. Kemudian teman yang lain menjawab bahwa tidak ada batasan ideal punya anak berapa, kembali lagi ke masing-masing pasangan, dan saya sepakat akan hal itu. 
Dua poin sempat diangkat untuk mengaitkannya dengan permasalahan tadi:
1) Anjuran pemerintah tentang dua anak cukup 
Poin ini dilihat sebagai solusi untuk mengatasi masalah membludaknya jumlah penduduk terkini. Hasil Sensus Penduduk 2010, Jumlah penduduk Indonesia pada Tahun 2010 saja yaitu 237.641.326 jiwa, dengan kepadatan penduduknya 124 jiwa/km2. Kepadatan tertinggi terdapat di Ibukota Jakarta, 14.469 jiwa/km2. Daerah lain di Pulau Jawa kepadatan penduduknya rata-rata 1.000 jiwa/km2. Kebayang padatnya kan? 
Dengan adanya anjuran batasan tadi tentunya harapan pemerintah adalah tiap pasangan di negeri ini akan berpikir lebih keras lagi untuk mempunyai anak lebih (dari dua) banyak. Tapi itu hanya anjuran kan? B-)
2) Masalah kemampuan finansial.
Salah seorang teman tadi mengatakan bahwa di Indonesia yang beranak banyak justru mereka yang tergolong ke dalam masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Fakta ini menjadi beban pemerintah dan membuat negara tak beranjak dari status berkembang. Saya tidak akan menanyakan dimana teman saya itu memperoleh data sehingga membuat pernyataan demikian karena ini hanya diskusi kecil (nan ringan tentunya). Tapi jika melihat sepintas, memang di beberapa tempat ada fakta seperti itu. Di lain sisi saya juga pernah mendapati ada beberapa pasangan yang secara ekonomi sangat mampu tapi tidak punya niat sama sekali untuk untuk berketurunan.
Diskusi berlanjut, dan teman yang bertanya di awal tadi mengaku hanya sekadar bertanya (read: mencari masalah), tapi tetap saja pertanyaan soal idealnya punya anak berapa itu rasanya menggelitik. Pemerintah mencoba menganjurkan batasan maksimal, tapi terkadang hasrat manusia beranak pinak itu mengalahkan logika (If You Know What I Mean). Belum lagi faktor budaya tiap daerah yang berbeda-beda dalam memandang masalah rumah tangga termasuk beranak pinak. Faktor-faktor lain mungkin juga bisa ditemukan jika ada penilitian lebih mendalam tentang masalah terkait.
Saya dan istri sebenarnya beberapa kali membicarakan perihal ini, meski tak serius-serius amat. Kesepakatan punya anak berapa pun berubah-ubah. Pernah bilangnya mau tiga, berubah lima, kemudian dua sampai ke “serahkan sama Allah saja, mau dikasih berapa”. Bagi kami berdua, pengaturan jarak kelahiran lah yang terpenting dahulu. Mungkin 2 atau 3 tahun lah. Mungkin! Sekarang kami dikaruniai seorang putra dan senyum tawanya sudah bisa menjadi pelipur lara kami sejauh ini. Menambah? Kenapa tidak!
Jadi, teman pembaca mau punya anak berapa? 😀
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s