Ayah Notskul

Akhir-akhir ini saya dipusingkan dengan Afif, si sulung. Dia mulai cerewet, bertanya tanpa ujung. Menanyakan hal-hal remeh terus menerus, bersambung dan tak jalan berulang-ulang. Belum lagi tingkahnya yang mengernyitkan dahi. Tak jarang membuat emosi saya meletup.

Iya, saya pusing kalau tidak mau dikatakan gerah. Dan tak perlu malu rasanya untuk mengakui itu. Ini pengalaman pertama dan harusnya saya bersyukur. Bersyukur karena diberi kesempatan oleh-Nya menikmati peran menjadi seorang ayah.

Lantas kemudian, apakah harus seperti ini terus menerus. Tentunya tidak. Teman pembaca yang juga seorang ayah pasti menginginkan menjadi orang tua yang baik. Menjadi pendidik, penuntun, pelindung dan teladan bagi buah hati kita.


Menjadi ayah adalah kejadian pengalaman. Tak ada disiplin ilmunya. Tak ada sekolahnya. Yang ada hanyalah referensi-referensi psikologi dan tak jauh dari studi pengalaman. Jadi untuk jadi ayah, ya, rasakan dan pelajari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s