Selamat #HariBloggerNasional!

Tepat sembilan tahun yang lalu Muhammad Nuh, Menteri Komunikasi dan Informatika saat itu, menetapkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Lima bulan sebelumnya saya mulai ngeblog. Bangga? Tidak juga. Postingan pertama saya waktu itu cupu asli.

cara-membuat-blog-panduan-membuat-blog-website-profesional1

Alamat blog pertama saya adalah carienaknyasaja.blogpsot.com sebelum bulan September tahun lalu memutuskan untuk berpindah platform di sini. Sebuah keputusan tepat karena blog pertama tadi tak bisa diakses. Lagi pula alamatnya kepanjangan. Entah apa yang ada dipikiran saya sembilan tahun lalu memilih alamat itu, he-he-he.

Dulu di masa awal mulai, jika ada yang bertanya apa alasan atau motivasi nge-blog saya mungkin bingung menjawab. Hampir dipastikan hanya sekedar ikut-ikutan trend saat itu. Dan memang karena diajak teman awalnya.


Berbicara motivasi nge-blog, Roy Suryo pernah mengungkapkan pernyataan kontroverial bahwa, nge-blog itu hanya trend sesaat. Para blogger tentunya bereaksi mencak-mencak keras atas pernyataan itu. Tapi jika dikaitkan dengan perkembangan kekinian, pernyataan beliau ada benarnya juga. Coba, teman-teman blogger tanya ke diri masing-masing, kapan terakhir nge-blog, update postingan atau setidaknya blogwalking. Hayo-hayo?! 

Tak jarang kita temui blogger yang update postingan sekali setahun jika tidak ingin dikatakan tak pernah nge-blog lagi beberapa tahun ini. Saya pribadi hanya berani menargetkan satu bulan satu postingan.

Lantas apa yang menjadi motivasi saya nge-blog sampai sekarang (meski tak seintens dulu)? Quote dari Pramoedya Ananta Toer adalah salah satunya, yaitu

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Ya, bekerja untuk keabadian. Di samping itu, saat kita menyelesaikan sebuah tulisan ada kepuasan tersendiri yang didapatkan, meski hanya hal remeh. Bukan begitu teman-teman blogger?

Ayo menulis lagi! Ayo nge-blog lagi!

Selamat Hari Blogger Nasional 2016!

***

sumber gambar di sini

Ayah Notskul

Akhir-akhir ini saya dipusingkan dengan Afif, si sulung. Dia mulai cerewet, bertanya tanpa ujung. Menanyakan hal-hal remeh terus menerus, bersambung dan tak jalan berulang-ulang. Belum lagi tingkahnya yang mengernyitkan dahi. Tak jarang membuat emosi saya meletup.

Iya, saya pusing kalau tidak mau dikatakan gerah. Dan tak perlu malu rasanya untuk mengakui itu. Ini pengalaman pertama dan harusnya saya bersyukur. Bersyukur karena diberi kesempatan oleh-Nya menikmati peran menjadi seorang ayah.

Lantas kemudian, apakah harus seperti ini terus menerus. Tentunya tidak. Teman pembaca yang juga seorang ayah pasti menginginkan menjadi orang tua yang baik. Menjadi pendidik, penuntun, pelindung dan teladan bagi buah hati kita.


Menjadi ayah adalah kejadian pengalaman. Tak ada disiplin ilmunya. Tak ada sekolahnya. Yang ada hanyalah referensi-referensi psikologi dan tak jauh dari studi pengalaman. Jadi untuk jadi ayah, ya, rasakan dan pelajari.

Afif dan Kentut

Melihat perkembangan anak sendiri tentunya memberikan kebahagiaan tersendiri, terlebih bagi ayah muda seperti saya. Di umurnya yang 2 tahun lebih, Afif, anak saya menunjukkan perkembangan indra penciumannya.

Kalau dulu saya (maaf) kentut dia hanya berkata,”Abi, kentut!”. Dua hari ini jika saya kentut lagi dia akan berkata, “Bau kentutnya, Abi!” atau ketika dalam kamar saya kentut kemudian dia masuk, sambil mendengus lalu bertanya kepada saya, “Apa ini bau?”. Melihatnya bertingkah seperti itu tentunya ada kesan lucu, tapi juga bahagia karena Afif telah tumbuh/ berkembang kemampuan hidupnya.

Awalnya kesimpulan saya dari ihwal kentut dan penciuman Afif ini bahwa indra penciuman anak akan bertambah tajam pada usia seperti Afif sekarang, 2 tahun lebih. Tapi setelah googling, ternyata indra penciuman telah ada pada saat bayi masih dalam kandungan pada umur 28 minggu dan menjadi sempurna pada trimester ketiga. Makanya ketika bayi lahir ia akan segera mengenali ibunya bukan dari indra penglihatan atau peraba tapi dari penciuman, karena aroma ibunya sama dengan aroma air ketuban.


Perkembangan anak kadang luput dari pengamatan kita. Sebagai orang tua, kita kadang disibukkan dengan pekerjaan sehingga perubahan pada diri mereka terlewati. Setahun lebih saya terpisahkan dengan Afif dan ketika kini setelah tinggal bersama, ada perasaan exicited begitu mendapati perkembangan yang tak signifikan pun.

Ya, saya bahagia! Walaupun dengan cara sederhana seperti ini.

Menafsir [Penyebab] Mimpi

Setiap dari kita pasti pernah bermimpi ketika tidur. Dari sekian banyak mimpi yang telah kita alami, ada saja yang masih terngiang-ngiang setelah bangun tidur. Entah itu mimpi buruk atapun tidak.

Semalam saya bermimpi yang absurd. Bagian yang teringat itu ketika seorang, yang mukanya mirip dengan vokalis J-rocks, mendesak saya untuk menyerahkan diri kepadanya yang jika tidak dipenuhi saya akan dibunuh. Ia meminta kepada saya dengan nada bijak meskipun tetap saja terasa mengintimidasi.

Saya pernah mendengar anggapan bahwa apa yang kita mimpikan sedikit banyak dipengaruhi oleh kejadian nyata yang telah ada sebelumnya. Nah, anggapan itu mungkin bisa menjelaskan isi mimpi tadi.

Kenapa orang yang saya temui itu mirip dengan vokalis J-rocks, Iman? Kemungkinan  ini disebabkan karena di dunia nyata saya memang mengikuti akun instagram-nya. Setiap hari membuka aplikasi instagram sudah menjadi habit, dan si Iman ini cukup rajin untuk meng-update lama instagram-nya.

Jujur saya jadi penasaran lagi sebenarnya, kenapa wajah mirip dia yang muncul di mimpi? Kenapa bukan Dian Pelangi? Apes!

Hijrah

Zaman SMA dulu para siswanya diasramakan  dan untuk tiap kamar dihuni oleh 4 orang. Setiap kamar telah disediakan lemari pakaian, meja belajar dan ranjang susun untuk tiap penghuninya. Bayangkan dengan penghuni 4 orang beserta barang-barang yang telah ada tadi, di samping rasa sesak, kejenuhan juga dengan mudah menghinggapi. Maka memasuki tahun kedua, kami berempat mulai sering melakukan perubahan posisi lemari-pakaian-mejabelajar-ranjang untuk menghindari kejenuhan.

Beberapa teman di kamar lain sebenarnya melakukan cara lain untuk mengatasi kejenuhannya yaitu dengan melakukan hijrah ke kamar lain, mencari suasana baru. Tapi itu tidak saya lakukan karena sudah terlanjur betah dengan kamar yang ada dan tak mau berepot ria pindah-pindah barang.

Tapi kali ini saya harus benar-benar berpindah kamar. Berpindah alamat atau platform blog tepatnya. Saya jenuh dengan blog lama. Seperti tak ada gairah di sana ketika membuka lamannya. Blog tersebut telah dihapus tapi tentunya setelah sebelumnya me-restore isi-isinya ke blog baru ini.

Hidup baru di tempat baru dan semoga membawa semangat baru (untuk nulis lagi)! 😀

Proses

Proses, menurut KBBI, adalah 1 runtunan perubahan (peristiwa) dl perkembangan sesuatu; 2 rangkaian tindakan, pembuatan, atau pengolahan yg menghasilkan produk; 3 perkara dl pengadilan.

Joni yang belum berusia 30 tahun, kini sudah merasa mapan. Tuhan telah memberikannya rezeki berupa pekerjaan. Dari gaji pekerjaan yang didapatkannya tersebut ia mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan, meski belum semua. Namun dibalik rasa mapan tersebut, benaknya sering saja bertanya bahwa untuk apa sebenarnya dia hidup, bekerja, dan kini mampu menghidupi diri sendiri. Pertanyaan itu terus terngiang di kepalanya tiap hari bahkan sepanjang hidupnya dan itu membuatnya gelisah.

Beberapa bulan kemudian, dia memutuskan untuk menikah. Mungkin ini langkah besar ini bisa jadi jawaban atas pertanyaannya tersebut. Setahun kemudian ia dikarunia seorang anak perempuan yang sehat dan lucu. Pada suatu dini hari, sekitar pukul 03.00, Joni terbangun. Dipandangnya sang istri yang tertidur pulas, pun sang anak yang terbaring di antara mereka. Pertanyaan itu muncul lagi. Kini ia telah menikah dan punya anak, apakah ini yang dicarinya? Apa hanya sebatas berkeluarga jadi tujuan hidupnya? Joni menarik napas panjang dan menghela, berbaring dan mencoba untuk kembali terlelap. Matanya enggan berkompromi. Ia gelisah sampai matahari menyapa.

sumber gambar di sini

Pagi-pagi, setelah mencium kening istri dan anaknya, ia bergegas ke kantor. Kepalanya terasa berat karena kurang tidur ditambah pertanyaan tentang tujuan hidupnya itu. Beban pertanyaan itu mengacaukan pikirannya. Jadilah ia kurang konsentrasi dengan pekerjaannya. Untuk menghilangkan kepenatannya ia mencoba membuka situs berbagi video dan tanpa sengaja menemukan sebuah video dengan judul sederhana “Kelahiran”.
Klik! Video terputar dan menayangkan tentang proses terbentuknya janin di dalam rahim ibu. Tiap tahapannya ditayangkan begitu detail sampai bayi dilahirkan. Tiba-tiba mata Joni terasa hangat dan akhirnya ia menangis. Dia teringat ibunya yang telah meninggal ketika ia belum selesai kuliah dulu. Tangisannya begitu terasa lagi karena kata-kata terakhir yang dibisikkan ibu menjelang dijemput ajal adalah “Cintailah proses, nak!”. Saat itu Joni sedikit terheran namun tak terlalu memperdulikannya. Barulah kini ia merasa mafhum, bahwa jawaban atas pertanyaan sederhananya selama ini adalah kalimat pamungkas Ibunya sendiri.
Sepulang kerja dan begitu ia sampai di rumah, dipeluknya sang istri dan anak cukup lama. Dalam batin ia berikrar bahwa mulai kini ia akan mencintai hidupnya proses demi proses. Tiap langkah ia akan selalu bersyukur, dengan begitu tidak akan ada lagi rasa sia-sia atas apa yang dilakukannya dalam hidup.

Gunting Kuku

Gunting Kuku, menurut KBBI, adalah alat untuk mengerat kuku.
Beberapa minggu yang lalu, saya mendapatkan oleh-oleh dari tetangga yang dia bawa pulang dari Singapura. Beberapa bungkusan kecil coklat dan sebuah gunting kuku. Coklat pastinya dengan segera tersantap dan habis. Gunting kukunya? Jelaslah masih utuh sampai sekarang.
Gunting kuku ini menjadi menarik sebenarnya bagi saya. Poin menariknya di mana? Perkakas yang terbilang sederhana tapi telah lama jadi salah satu pilihan oleh-oleh/ cenderamata (tentunya dengan bentuk yang unik dan khas).