Swiss Army Man (2016)

Persahabatan selalu membawa berbagai kemudahan, tak jarang keberuntungan. Banyak yang beranggapan bahwa ikatan tersebut tak perlu membawa isu SARA, jenis kelamin, status apalagi masalah hidup mati. Hidup mati? Absurd, kan? Ide itu yang kemudian diangkat duo sutradara Daniel Kwan dan Daniel Scheinert menjadi tema film absurd paling parah tahun ini (IMO) Swiss Army Man.

Dibuka dengan adegan Hank (Paul Dano) terdampar sendiri di sebuah pulau kecil antah berantah yang entah sudah berapa lama. Berantakan tak terusus nan putus asa, sedikit mengingatkan dengan kondisi Tom Hanks di Cast AwayDi penghujung hidupnya, ia dipertemukan dengan Manny (Daniel Radcliffe), sosok mayat yang tiba-tiba “hidup”. Harapan hidup Hank seketika muncul lagi dan mereka berdua kemudian mencoba untuk mencari jalan pulang.

swissarmyman_cms-638x425

Mungkin terkesan berlebihan ketika menyebut film ini absurd parah. Tapi silahkan potong anu rumput depan rumah saya sampai botak jika salah. Lihat saja bagaimana cara Hank menggunakan pertolongan Manny untuk menyeberang laut, Manny si mayat yang punya kesaktian aneh dan Hank yang sepanjang film berkreasi asyik hanya untuk curhat kepada Manny tentang kehidupan percintaannya.

Two thumbs up untuk duet aktor pemeran utama. Paul Dano selalu berhasil memainkan perannya dengan ciamik di film ini. Coba lihat aktingnya di 12 Years a Slave dan There Will Be Blood. Daniel Radcliffe tak kalah apiknya. Saya belum menonton Now You See Me 2, tapi akting kakunya di The Women in Black tak muncul lagi di sini. Menjadi sosok mayat aneh bin sakti, Daniel berhasil keluar dari bayang-bayang Harry Potter. Walhasil, chemistry keduanya terjalin sangat baik.

So, selamat menonton! 😉

Advertisements

Sympathy for Mr. Vengeance (2002)

Sympathy for mr. Vengeance 4
sumber gambar di sini

Ryu (Shin Ha-kyun), seorang tuli dan bisu, memiliki saudara perempuan dengan kondisi disfungsi organ. Terlebih lagi ia hanya buruh pabrik. Ia kemudian meminjam uang di kantor untuk melakukan donor organ secara ilegal, dengan lugu tentunya. Kejadian tak terduga terjadi, membuat ia dipecat.

Ryu merasa frustasi. Dengan bantuan teman wanitanya, Yeong-min (Bae Doona), ia menculik putri semata wayang mantan bosnya, Park Dong-jin (Song Kang-Ho), untuk mendapatkan sejumlah uang. Dan tentunya uang itu untuk biaya transplantasi organ saudarinya. Dari sini kemudian kegilaan-kegilaanlah yang terjadi berikutnya.

Film ini memiliki durasi dua jam. Satu jam pertama yang memperkenalkan kita akan sosok Ryu, terasa hambar meski ada beberapa adegan mencengangkan. Tapi tidak dengan satu jam setelahnya. Kita disajikan kondisi Park Dong-jin yang berusaha mencari putrinya. Rasa depresi kemudian ia melakukan segala hal demi putrinya. Belum lagi Ryu yang masih dendam kepada orang yang membuat dirinya menderita.

***

Park Chan-wook ahlinya membuat film dengan twist-twist yang mencengangkan, coba lihat Oldboy yang gila itu, Holywood sampai capek-capek membuat remake-nya. Sympathy for Mr. Vengeance punya kegilaan tapi sayang tak seintens Oldboy. Andaikan di film ini Choi Min-sik memerankan salah satu tokoh utama, hasilnya mungkin lain.

The Man from U.N.C.L.E (2015)

Film dengan tema spionase selalu menarik untuk ditonton dan saya fan-nya. Siapa tak kenal dengan franchise James Bond. Kemudian ada Seri Bourne. Tahun ini muncul 2 pemain utama untuk film dengan tema tersebut yaitu Spectre yang baru-baru ini dirilis dan katanya tidak membawa warna baru dibanding dengan pendahulunya yaitu Skyfall. Yang kedua adalah The Man from U.N.C.L.E., sebuah adaptasi dari serial televisi tahun 60-an.

The-Man-From-Uncle_website_1170x500px_01

Dengan setting waktu perang dingin, dimana terjadi konflik kepentingan antara Amerika dan Uni Soviet yang tentunya melibatkan masing-masing pihak Intelijen mereka.

Napoleon Solo (Henry Cavill), agen CIA stylish dan penuh pesona terpaksa berurusan dengan Iliya Kuryakin (Armie Hammer), agen KGB super kaku, untuk mengatasi ancaman nuklir di daratan eropa. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya dua orang yang bertolak belakang mencoba mengatasi masalah super berat seperti ancaman nuklir tadi. Dan Guy Ritchie kemudian menyelipkan jokes pada setiap adegan aksinya, seperti yang dia lakukan di Sherlock Holmes (2009) maupun sekuelnya. Tak lupa pula ada si Gaby (Alicia Vikander) yang tak hanya jadi pemanis dan di akhir film memberikan kejutan tentang identitas asli dirinya.

Ada beberapa cameo yang muncul di film ini, seperti Hugh Grant dan juga ada David Beckham. Untuk nama terakhir mungkin ada kaitannya dengan kerjasamanya dengan sang sutradara di video iklan terbarunya.

Mungkin The Man from U.N.C.L.E belum “sekuat” James Bond dan Bourne, tapi tidakkah anda bosan menanti sekuel-sekuel keduanya dari tahun ke tahun. Gosipnya sih, seperti Kingsman: The Secret Service, The Man from U.N.C.L.E juga akan dibuatkan sekuelnya. Patut ditunggu.

That Thing Called Tadhana (2014)

*spolier alert*
Ibarat ungkapan sudah jatuh tertimpa tangga pula, Mace (Angelica Panganiban) yang sedang dalam keadaan sedih akibat putus cinta, harus berurusan dengan masalah jatah bagasi di salah satu bandara Negeri Pizza, Italia. Bagai gayung bersambut, muncullah Anthony (JM de Guzman) yang kebetulan satu pesawat untuk pulang ke Filipina, menawarkan pertolongan berbagi jatah bagasi kepadanya.
Seperti Jesse dan Celine, dalam Before Sunrise yang bertemu tidak sengaja di tempat yang berbau transportasi (mungkin semacam tribute), kedua tokoh dalam film ini kemudian melanjutkan perjalanan pulang sambil berbagi cerita satu sama lain. Mace dengan kisah cinta tragis dan Antonhy yang dengan setia mendengar keluh kesah teman perjalanannya, tak lupa untuk curhat pula.
sumber gambar di sini
Mungkin tema putus-cinta-kemudian-diselamatkan-cinta-baru sudah sering kita jumpai di film lain. Tapi elemen manis di film produksi Filipina ini lebih terasa. Semanis tingkah lucu kedua tokoh utamanya sepanjang film. Tak ada yang berlebihan dari akting keduanya ataupun jalan ceritanya. Di samping itu ending yang bikin mulut menganga menjadi twist tersendiri, membedakannya dengan film lain bertema serupa.
Takdir menjadi poin penting yang coba ditekankan dalam film ini. Bahwa terkadang takdir membawa kita dalam kejadian tak terduga, dan seringnya itu terjadi di masalah percintaan. Tapi That Thing Called Tadhana dengan kesederhanaannya juga mengajarkan untuk selalu bijak dalam menghadapi takdir meski itu pahit.
***
Pada akhirnya film ini menjadi tontonan bukan cuma untuk mereka yang baru putus cinta ataupun telah (lama) move on dan sedang dalam pengembaraan mencari cinta baru. Apapun status percintaan teman pembaca sekarang, tetap saja That Thing Called Tadhana adalah drama percintaan ringan untuk segala suasana hati.
Selamat menonton!

"Reading Challenge" untuk Menantang Diri

Akhir-akhir ini (hitungan bulan bahkan mungkin tahunan) minat saya membaca turun. Buku-buku di lemari mulai berdebu. Kalau coba dicari biang keladi dari kemalasan saya untuk membaca sebenarnya gampang. 
Pertama, kesibukan. Saya sibuk berkeluarga atau versi lebay-nya membangung mahligai rumah tangga sakinah, mawadah dan warahmah. Kenapa saya menyebut berkeluarga itu sebuah kesibukan, karena masa memulai berkeluarga yang masih seumur jagung seperti sekarang adalah saat seru-serunya. Seru memulai dari nol lagi, seru memiliki anak pertama yang lagi lucu-lucunya (maafkan bapakmu, nak, belum sempat posting tentang kamu), seru beradu argumen dengan istri dari hal memilih perabot rumah tangga sampai warna cat rumah, dan masih banyak keseruan lain yang hanya bisa teman pembaca rasakan (tentunya) setelah menikah.
Penyebab kedua adalah punya hobi lain. Waktu untuk hobi saya mulai beralih ke nonton film atau serial. Godaan menonton film/ serial sungguh sangatlah tak tertahankan (lebay lagi). Secara instan dan visual film/ serial lebih memanjakan mata. Ditambah akses mudah untuk mengunduh mendapatkan apa yang ingin ditonton . Belum lagi beberapa teman yang dengan kemurahan hati berbagi koleksi. :))).
Tahun 2015 ini Goodreads kembali mengadakan Reading Challenge. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Goodreads menawarkan penggunanya untuk menantang diri mereka membaca sejumlah buku yang ditargetkan di awal tahun. Sebenarnya tahun lalu sudah ikut tantangan ini dan karena kedua penyebab tadi di atas saya gagal total. 
Mencoba untuk mengembalikan hobi lama, saya memutuskan untuk ikut Reading Challenge lagi. Sampai dengan bulan Maret ini, dari target 10 buku, saya baru menyelesaikan 2 buku. Itupun saya curi start karena mulai membaca buku pertama itu akhir tahun lalu bukan pas di awal tahun ini. :p

Boyhood (2014)

Sepanjang hidup kita dari lahir sampai sekarang tentunya telah banyak menemui hal-hal indah. Terutama di kanak-kanak, apalagi dengan keluarga utuh. Tapi terkadang takdir membawa keindahan-keindahan itu begitu cepat. 
Mason (Ellar Coltrane) yang di usia 7 tahun harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya, yang diperankan Ethan Hawke dan Patricia Arquette, telah bercerai. Tumbuh besar dengan menjadi bagian dari sebuah keluarga normal harus dikuburnya dalam-dalam. Selama 12 tahun ia bersama kakaknya, Samantha (Lorelei Linklater), harus hidup berpindah-pindah mengikuti Ibu mereka karena menikah beberapa kali. 
sumber gambar di sini
Tak ada konflik yang menonjol sepanjang film ini. Mungkin sepintas terasa datar. Konflik-konflik yang ada sudah biasa kita temui di drama bertema keluarga atau coming-age yang lain. Tapi apa yang dilakukan oleh sang sutradara sekaligus penulis naskah, Richard Linklater, di film ini adalah hal yang luar biasa. 
12 tahun, ya 12 tahun adalah waktu yang dibutuhkannya untuk menyelesaikan film ini. Tentunya dengan jajaran cast utama yang bertambah usia dari awal hingga akhir film. Mungkin hal serupa bisa saja kita temukan pada trilogi Before Sunrise-Sunset-Midnight, yang merupakan karya Richard Linklater juga, tapi tetap saja film ini berbeda. Masa pertumbuhan seorang bocah lelaki sampai masuk kuliah berhasil di-eksplor dengan baik oleh Richard sehingga bisa membedakan dengan masterpiece triloginya itu.
Pada akhirnya Kalau ada mencari keseruan di film ini, lebih baik tonton saja film yang lain. Namun jika anda orang yang santai atau penyabar maka selamat menonton!
***
Hidup, hidup ini indah
Meskipun takdir
Terkadang tak lama
~ Perjalanan Panjang oleh Ari Lasso

Safe House (2012)

sumber gambar di sini

Pernahkah anda membayangkan memiliki pekerjaan menjaga sebuah gedung atau rumah? Dan itu anda lakukan hanya seorang diri? Hanya berhadapan dengan layar-layar monitor cctv hampir sepanjang hari. Bakal menjemukan bukan? Pekerjaan itulah yang dijalani oleh Matt Weston (Ryan Reynolds). Menjadi agen rahasia yang harusnya sebuah status pekerjaan paling keren, tapi menjaga gedung milik CIA di pinggiran Kota Johannesburg, Afrika Selatan bukanlah sesuatu yang benar-benar diinginkannya. Dan setahun menjalaninya Matt mulai bosan dan meminta pekerjaan agen lainnya yang lebih layak menurutnya, tapi itu ditolak mentah-mentah.

Masalah baru muncul ketika akhirnya Matt mendapatkan “tamu” pertamanya. Bukan sembarang “tamu” karena dia adalah Tobin Frost, yang diperankan dengan apik oleh Denzel Washington, buron CIA yang dulunya agen handal namun membelot dan digosipkan telah meninggal dunia. Penginterogasian pun dilakukan oleh sebuah tim CIA yang tak membuahkan hasil. Tak sampai disitu, kembali kekacauan bertambah ketika gedung tersebut di serang oleh sekelompok bersenjata. Dilanjutkan kekacauan-kekacauan lainnya yang menambah ketegangan jalannya cerita di film ini.

sumber gambar di sini

Sejauh yang saya tahu ini adalah duet pertama Denzel Washington dengan Ryan Renolds dan chemistry di antara keduanya berhasil terbangun. Ryan yang mampu berakting agen muda dengan segala kepolosannya berhasil menjadi partner in crime Denzel yang dengan segala kewibawaannya sebagai ex-agen dan salah satu buron paling dicari. Sebenarnya duet seperti ini bukanlah hal baru bagi si gaek Denzel. Hal sama pernah dilakuinya di Unstoppable bersama Chris Pine dan American Gangster (salah satu film favorit saya) bersama Russel Crowe. Seolah ini yang menjadi spesialis bagi Denzel.

Terlepas dari nyata tidaknya keberadaan dan penggunaan “Safe House” (dan tentunya dengan si penjaga), penggunaan ide tersebut menjadi poin tersendiri untuk film ini. Jadi tak sekedar film agen rahasia dengan adegan baku tembak dan konspirasi-konspirasi seperti yang ada di Body of Lies dan Bourne Trilogy. Namun sisi “Safe House” sendiri sebenarnya tak terlalu dieksplorasi. Hanya menampakkan bahwa ada gedung dan penggunaannya untuk media interogasi, tak lebih. Meski di bagian lain muncul rumah lainnya tapi itu tidak membantu banyak.

Yang membuat saya jatuh cinta sama film action berbau agen rahasia adalah James Bond, sehingga tak sulit saya untuk menikmati film karya Daniel Espinosa ini. Recomended? Tergantung apakah anda suka film dengan genre sejenis dan tak mau bosan dengan tema  yang berbau superiornya Amerika Serikat.