perindu [keduapuluhdelapan]

​Bulan tak tahu jarak kita, tapi ia pandai meretas benang-benang rindu yg ada #perindu

Pernahkah bulan ingkar janji? Tidak, jika yang kau tanyakan tentang upaya menyatukan kita #perindu

Tahukah, kau, bahwa bulan di tiap malamnya ikut merapal sajak-sajak rinduku? #perindu

Selayaknya kini kau jadikan bulan sebagai sahabat pena. Titipkan naskah-naskah rindumu padanya #perindu

Bulan penutur yang jujur. Ia tak pernah dusta akan besar kecil rindu #perindu

Sympathy for Mr. Vengeance (2002)

Sympathy for mr. Vengeance 4
sumber gambar di sini

Ryu (Shin Ha-kyun), seorang tuli dan bisu, memiliki saudara perempuan dengan kondisi disfungsi organ. Terlebih lagi ia hanya buruh pabrik. Ia kemudian meminjam uang di kantor untuk melakukan donor organ secara ilegal, dengan lugu tentunya. Kejadian tak terduga terjadi, membuat ia dipecat.

Ryu merasa frustasi. Dengan bantuan teman wanitanya, Yeong-min (Bae Doona), ia menculik putri semata wayang mantan bosnya, Park Dong-jin (Song Kang-Ho), untuk mendapatkan sejumlah uang. Dan tentunya uang itu untuk biaya transplantasi organ saudarinya. Dari sini kemudian kegilaan-kegilaanlah yang terjadi berikutnya.

Film ini memiliki durasi dua jam. Satu jam pertama yang memperkenalkan kita akan sosok Ryu, terasa hambar meski ada beberapa adegan mencengangkan. Tapi tidak dengan satu jam setelahnya. Kita disajikan kondisi Park Dong-jin yang berusaha mencari putrinya. Rasa depresi kemudian ia melakukan segala hal demi putrinya. Belum lagi Ryu yang masih dendam kepada orang yang membuat dirinya menderita.

***

Park Chan-wook ahlinya membuat film dengan twist-twist yang mencengangkan, coba lihat Oldboy yang gila itu, Holywood sampai capek-capek membuat remake-nya. Sympathy for Mr. Vengeance punya kegilaan tapi sayang tak seintens Oldboy. Andaikan di film ini Choi Min-sik memerankan salah satu tokoh utama, hasilnya mungkin lain.

The Man from U.N.C.L.E (2015)

Film dengan tema spionase selalu menarik untuk ditonton dan saya fan-nya. Siapa tak kenal dengan franchise James Bond. Kemudian ada Seri Bourne. Tahun ini muncul 2 pemain utama untuk film dengan tema tersebut yaitu Spectre yang baru-baru ini dirilis dan katanya tidak membawa warna baru dibanding dengan pendahulunya yaitu Skyfall. Yang kedua adalah The Man from U.N.C.L.E., sebuah adaptasi dari serial televisi tahun 60-an.

The-Man-From-Uncle_website_1170x500px_01

Dengan setting waktu perang dingin, dimana terjadi konflik kepentingan antara Amerika dan Uni Soviet yang tentunya melibatkan masing-masing pihak Intelijen mereka.

Napoleon Solo (Henry Cavill), agen CIA stylish dan penuh pesona terpaksa berurusan dengan Iliya Kuryakin (Armie Hammer), agen KGB super kaku, untuk mengatasi ancaman nuklir di daratan eropa. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya dua orang yang bertolak belakang mencoba mengatasi masalah super berat seperti ancaman nuklir tadi. Dan Guy Ritchie kemudian menyelipkan jokes pada setiap adegan aksinya, seperti yang dia lakukan di Sherlock Holmes (2009) maupun sekuelnya. Tak lupa pula ada si Gaby (Alicia Vikander) yang tak hanya jadi pemanis dan di akhir film memberikan kejutan tentang identitas asli dirinya.

Ada beberapa cameo yang muncul di film ini, seperti Hugh Grant dan juga ada David Beckham. Untuk nama terakhir mungkin ada kaitannya dengan kerjasamanya dengan sang sutradara di video iklan terbarunya.

Mungkin The Man from U.N.C.L.E belum “sekuat” James Bond dan Bourne, tapi tidakkah anda bosan menanti sekuel-sekuel keduanya dari tahun ke tahun. Gosipnya sih, seperti Kingsman: The Secret Service, The Man from U.N.C.L.E juga akan dibuatkan sekuelnya. Patut ditunggu.

Afif dan Kentut

Melihat perkembangan anak sendiri tentunya memberikan kebahagiaan tersendiri, terlebih bagi ayah muda seperti saya. Di umurnya yang 2 tahun lebih, Afif, anak saya menunjukkan perkembangan indra penciumannya.

Kalau dulu saya (maaf) kentut dia hanya berkata,”Abi, kentut!”. Dua hari ini jika saya kentut lagi dia akan berkata, “Bau kentutnya, Abi!” atau ketika dalam kamar saya kentut kemudian dia masuk, sambil mendengus lalu bertanya kepada saya, “Apa ini bau?”. Melihatnya bertingkah seperti itu tentunya ada kesan lucu, tapi juga bahagia karena Afif telah tumbuh/ berkembang kemampuan hidupnya.

Awalnya kesimpulan saya dari ihwal kentut dan penciuman Afif ini bahwa indra penciuman anak akan bertambah tajam pada usia seperti Afif sekarang, 2 tahun lebih. Tapi setelah googling, ternyata indra penciuman telah ada pada saat bayi masih dalam kandungan pada umur 28 minggu dan menjadi sempurna pada trimester ketiga. Makanya ketika bayi lahir ia akan segera mengenali ibunya bukan dari indra penglihatan atau peraba tapi dari penciuman, karena aroma ibunya sama dengan aroma air ketuban.


Perkembangan anak kadang luput dari pengamatan kita. Sebagai orang tua, kita kadang disibukkan dengan pekerjaan sehingga perubahan pada diri mereka terlewati. Setahun lebih saya terpisahkan dengan Afif dan ketika kini setelah tinggal bersama, ada perasaan exicited begitu mendapati perkembangan yang tak signifikan pun.

Ya, saya bahagia! Walaupun dengan cara sederhana seperti ini.